Antara Layar Dan Dunia Nyata, Arah Baru Ilmu Komunikasi Sosial

OPINI, Suarapergerakan.id – Seperti yang kita tau bahwa perubahan zaman adalah sesuatu yang tidak bisa kita hentikan. Mau tidak mau, kita sebagai manusia harus belajar beradaptasi dengan setiap perkembangan yang datang, baik dari sisi teknologi maupun sosial. Dunia terus bergerak maju dan kita tidak punya pilihan selain ikut menyesuaikan diri agar tidak tertinggal.

Salah satu hal yang paling terasa dampaknya adalah komunikasi sosial cara manusia berinteraksi, memahami, dan membangun hubungan satu sama lain.

Dulu komunikasi sosial berlangsung secara langsung di tempat itu. Kita bisa melihat ekspresi wajah, merasakan emosi, dan memahami pesan melalui tatap muka. Semua terasa hangat dan nyata.

Sekarang sebagian besar interaksi berpindah ke layar. Media sosial, pesan instan, vidio call dan ruang virtual membuat kita bisa berkomunikasi dengan siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Semuanya jadi cepat dan mudah, tapi sering kali terasa dingin dan sepi. Kita sering kali merasa “terhubung” secara digital, tapi justru semakin jauh dalam rasa.

Itulah tantangan besar bagi ilmu komunikasi sosial saat ini. Bagaimana kita memahami dan menyeimbangkan dua dunia digital dan nyata supaya hal tersebut bisa berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan! Dunia digital menawarkan kemudahan, kecepatan, dan jangkauan luas, tapi interaksi langsung masih tetap penting untuk membangun kedekatan, empati dan agar teknologi menjadi alat bantu, bukan pengganti kemanusiaan..

Sehingga kita harus belajar menyesuaikan diri bukan hanya dengan teknologi, tapi juga dengan cara berkomunikasi yang tetap manusiawi atau secara langsung di tengah digitalisasi ini.

Ilmu komunikasi sosial kini tidak cukup hanya mempelajari teori dan media, tetapi juga bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan di balik setiap pesan yang dikirimkan.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita hindari, tapi kita bisa memilih bagaimana menggunakannya. Layar boleh memisahkan jarak, tapi jangan sampai memisahkan rasa. Arah baru ilmu komunikasi sosial seharusnya bukan tentang menggantikan dunia nyata dengan dunia digital, melainkan menemukan titik temu di antara keduanya.

Karena pada akhirnya, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi juga tentang memahami manusia di balik setiap kata.

Penulis: Fauzan Habibi
Universitas Pamulang kampus Serang
Dosen Pembimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.,
Kepala Program Studi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos
Program Studi: Administrasi Negara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *