Urgensi Teori Sosial Feminisme dalam Menjawab Tantangan Ketidaksetaraan di Indonesia

Serang, Media Suarapergerakan.id | Ketidaksetaraan gender masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Meski berbagai kemajuan telah dicapai, struktur sosial yang dibangun oleh budaya patriarki terus melanggengkan diskriminasi terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya. Dalam konteks inilah teori sosial feminisme hadir sebagai pendekatan analitis yang relevan dan urgen untuk menjawab berbagai tantangan ketidakadilan sosial.

Feminisme bukan sekadar gerakan yang menuntut hak perempuan, tetapi sebuah kerangka pemikiran kritis untuk membongkar akar-akar struktural dari ketimpangan, memperjuangkan kesetaraan, serta mendorong perubahan sosial yang lebih adil.


Feminisme sebagai Alat Baca Realitas Sosial Indonesia

Feminisme menegaskan bahwa ketidaksetaraan bukan disebabkan faktor biologis atau kemampuan individu, melainkan hasil konstruksi sosial yang dibangun bertahun-tahun. Dalam masyarakat yang masih sarat bias gender, perempuan kerap ditempatkan pada posisi subordinat.

Di Indonesia, penerapan perspektif feminis sangat relevan untuk memahami berbagai isu, antara lain:

1. Kekerasan terhadap Perempuan yang Masih Tinggi

Maraknya kekerasan berbasis gender menunjukkan bahwa norma sosial masih sering menyalahkan korban (victim blaming) dan membiarkan dominasi laki-laki terus berjalan. Pendekatan feminis memperlihatkan bahwa kekerasan bukan persoalan individu, tetapi masalah struktural yang membutuhkan respons sistemik.

2. Ketimpangan Akses Pendidikan dan Pekerjaan

Di beberapa wilayah, perempuan masih menghadapi hambatan dalam mendapatkan pendidikan berkualitas dan pekerjaan layak. Stereotip peran domestik membuat mereka sering tidak dianggap sebagai pencari nafkah utama, sehingga peluang karier pun dibatasi.

3. Minimnya Representasi Perempuan dalam Politik

Keterlibatan perempuan dalam politik masih rendah, sehingga kebijakan publik sering tidak mencerminkan pengalaman dan kebutuhan perempuan. Feminisme membantu mengkritisi sistem politik yang maskulin dan mendorong kebijakan afirmatif.

4. Bias Gender dalam Pelayanan dan Birokrasi Publik

Layanan publik di banyak sektor belum sepenuhnya sensitif gender, mulai dari fasilitas umum yang tidak ramah perempuan hingga minimnya perlindungan bagi pekerja perempuan yang hamil, menyusui, atau mengalami kekerasan.


Kontribusi Teori Feminisme sebagai Solusi

Teori feminisme tidak hanya mengkritisi ketimpangan, namun juga memberikan kerangka solusi yang komprehensif dan terukur.

1. Kebijakan Publik yang Sensitif Gender

Pendekatan feminis mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang mengakomodasi kebutuhan perempuan, seperti:

  • fasilitas publik yang aman dan inklusif,
  • cuti melahirkan dan kebijakan kerja ramah keluarga,
  • perlindungan bagi korban kekerasan,
  • kesempatan kerja dan pendidikan yang setara.

2. Penguatan Anggaran Responsif Gender

Analisis feminis dapat memperkuat praktik Gender Responsive Budgeting (GRB) di birokrasi agar setiap program pemerintah mempertimbangkan dampaknya bagi laki-laki dan perempuan secara adil.

3. Transformasi Budaya dan Pendidikan Sosial

Perubahan struktural tidak akan berhasil tanpa perubahan budaya. Pendidikan gender sejak dini, kampanye publik, serta pemberitaan media yang anti-stereotip dapat membuka wawasan masyarakat bahwa kesetaraan gender bukan ancaman, melainkan kebutuhan bangsa.


Mengapa Indonesia Membutuhkan Pendekatan Feminis?

Indonesia tidak bisa mencapai pembangunan nasional yang berkelanjutan apabila setengah dari populasinya masih terhambat oleh bias gender. Menggunakan teori feminisme berarti:

  • melindungi martabat seluruh warga negara,
  • menurunkan angka kekerasan berbasis gender,
  • meningkatkan kualitas demokrasi,
  • memperluas partisipasi perempuan dalam ruang publik,
  • menciptakan masyarakat yang lebih adil, aman, dan produktif.

Feminisme bukan gerakan yang memusuhi laki-laki. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk membangun kerja sama dan kesadaran bersama bahwa kesetaraan adalah fondasi utama menuju Indonesia yang lebih maju.

Dengan begitu Urgensi penerapan teori sosial feminisme di Indonesia semakin nyata di tengah tantangan ketidaksetaraan yang masih berlangsung. Feminisme bukan hanya teori akademik, tetapi alat perjuangan dan analisis untuk mendorong transformasi sosial.

Dengan memahami dan mengimplementasikan perspektif feminis dalam pendidikan, kebijakan publik, dan kehidupan sosial, Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih setara dan berkeadilan bagi semua.

Penulis: Nayla Sekar Larasati
Universitas Pamulang Kampus Serang
Dosen Pembimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.
Kepala Program Studi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos.
Program Studi Administrasi Negara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *