Dari Praktik ke Bukti Ilmiah: Inovasi Duta Edukasi RSDP Diperkuat melalui Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan

Serang, suarapergerakan.id – Upaya memperkuat budaya edukasi di lingkungan rumah sakit terus dikembangkan RSUD dr. Dradjat Prawiranegara (RSDP) Kabupaten Serang, melalui inovasi Duta Edukasi yang dipilih melalui unit promosi kesehatan (promkes) pada 26 Maret Tahun 2025 lalu, sebuah tim edukator yang hadir di setiap unit pelayanan untuk mendorong edukasi berbasis teman sejawat.

Duta Edukasi dipilih melalui Unit Promosi Kesehatan (Promkes) dan berkolaborasi dengan Clinical Instructor (CI) di masing-masing unit. Kehadiran mereka diharapkan menjadi penggerak edukasi yang lebih dekat dengan tenaga kesehatan karena proses edukasi dilakukan oleh rekan kerja kepada rekan kerja di lingkungan unit masing-masing.

Menariknya, inovasi tersebut tidak hanya dikembangkan sebagai kegiatan internal rumah sakit, tetapi juga dibawa ke ranah akademik melalui pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan.

Hal tersebut dilakukan oleh Lilis Muhlisah, S.Kep., Ners., praktisi Promosi Kesehatan RSDP sekaligus mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan. Berangkat dari pengalaman langsung di lapangan, Lilis mengembangkan keberadaan Tim Edukator tersebut menjadi sebuah penelitian yang mengkaji efektivitas Tim Edukator terhadap keberhasilan edukasi hand hygiene teman sejawat.

“Saya melihat bahwa edukasi akan lebih mudah diterima ketika dilakukan oleh teman sejawat yang berada di unit yang sama. Karena itu, Duta Edukasi bukan hanya sebagai pelaksana edukasi, tetapi diharapkan menjadi penggerak perubahan di unitnya masing-masing,” ujar Lilis.

Dari Inovasi Lapangan Menjadi Evidence
Penelitian tersebut menjadi upaya untuk melihat secara ilmiah bagaimana peran Tim Edukator dapat mendukung keberhasilan edukasi hand hygiene kepada teman sejawat.

Melalui penelitian ini, inovasi yang sebelumnya berjalan sebagai praktik di lingkungan rumah sakit mendapatkan penguatan melalui pendekatan akademik. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang mendukung efektivitas Tim Edukator dalam menyampaikan edukasi.

Proses pengembangan penelitian juga mendapatkan pendampingan akademik dari Dosen Pembimbing Dr. Ismarina,S.Si.T,Bd,SKM.M.Kes dan Dr. Prihayati,S.iT.,SKM.,MKM, Hj. Sri Rahayu,S.Kp.,M.KKK,PhD dan Yopi Triana,S.Kep.,M.Kep,.

“Pendampingan dari dosen tidak hanya membantu dalam aspek metodologi penelitian, tetapi juga membantu melihat inovasi ini secara lebih kritis sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Lilis.

Bagi RSDP, keberadaan Duta Edukasi di setiap unit diharapkan tidak berhenti pada kegiatan edukasi hand hygiene, tetapi dapat menjadi bagian dari penguatan budaya edukasi di lingkungan rumah sakit.

Tim Edukator dapat berperan dalam berbagai topik edukasi sesuai kebutuhan unit, baik yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian infeksi, keselamatan pasien, mutu pelayanan, maupun program promosi kesehatan lainnya.
Dengan demikian, Duta Edukasi diharapkan menjadi perpanjangan tangan Unit Promkes dalam membangun budaya belajar dan berbagi pengetahuan di lingkungan kerja.
Dari RSDP untuk Fasilitas Kesehatan Kabupaten Serang

Ke depan, inovasi Duta Edukasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu praktik baik yang dapat dikembangkan lebih luas.
Lilis berharap pengalaman RSDP dalam mengembangkan Tim Edukator dapat menjadi inspirasi bagi fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, khususnya rumah sakit dan puskesmas di wilayah Kabupaten Serang.

“Harapannya, konsep Duta Edukasi ini tidak hanya berhenti di RSDP. Jika model ini dinilai memberikan manfaat, tentunya dapat menjadi salah satu referensi bagi fasilitas kesehatan lain untuk membentuk Tim Edukator sesuai kebutuhan masing-masing,” ungkapnya.

Pengembangan Tim Edukator di berbagai fasilitas kesehatan juga berpotensi memperkuat peran tenaga kesehatan sebagai agen perubahan di lingkungan kerjanya masing-masing.

Karena edukasi tidak selalu harus datang dari atas ke bawah. Edukasi dapat tumbuh dari unit, dari tenaga kesehatan, dan dari teman sejawat yang memahami kebutuhan lingkungan kerjanya.

Sinergi Praktik, Akademik dan Kebijakan
Inovasi Duta Edukasi RSDP memperlihatkan bagaimana praktik di lapangan dapat dikembangkan melalui pendidikan dan penelitian untuk menghasilkan pendekatan yang lebih terukur.

RSDP menjadi ruang tumbuhnya inovasi, Universitas Faletehan memberikan penguatan akademik melalui pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat, sementara hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan program kesehatan yang lebih luas.

Ke depan, sinergi antara RSDP, Universitas Faletehan, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Serang diharapkan dapat membuka peluang pengembangan model Tim Edukator di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, apa yang berawal dari sebuah inovasi di lingkungan RSDP dapat berkembang menjadi gerakan edukasi yang lebih luas—dari teman untuk teman, dari unit untuk unit, dan dari rumah sakit untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *