Sidoarjo, Media Suarapergerakan.id | Panggung Teater Rakyat Buruh menampilkan dua pertunjukan bertajuk “Tiga Bendera” dan “PHK” yang digelar di Basecamp Coffee Lapangan BUMDes Pilang, Wonoayu, Sidoarjo. Pertunjukan ini disaksikan langsung oleh masyarakat umum serta para pekerja yang hadir memadati lokasi acara. Senin, (16/02).
Dua pementasan tersebut mengangkat realita kehidupan buruh yang kerap terjadi di lingkungan kerja, mulai dari persoalan perbedaan organisasi Serikat hingga ancaman pemutusan hubungan kerja secara sepihak.


Pertunjukan ini merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Teater Rakyat yang diselenggarakan oleh Wadah Asah Solidaritas Surabaya. Kegiatan yang diikuti oleh 15 peserta ini, merupakan pekerja/buruh dari berbagai Serikat Pekerja di beberapa perusahaan.
Pelatihan Teater Rakyat bagi Buruh sendiri rencananya berlangsung selama empat hari, mulai Sabtu–Selasa, 14–17 Februari 2026, bertempat di Griya Samadhi Vincentius Prigen, Pasuruan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dan fasilitator dari Institut Teater Rakyat Jogjakarta.
Mengusung tema “Bangkit Mengakui Diri Sebagai Manusia Pekerja”, pelatihan ini tidak hanya memberikan materi dasar Teater Rakyat, tetapi juga membangun kesadaran kritis peserta terhadap realitas sosial yang mereka alami sebagai Buruh.
Dalam rundown kegiatan, para peserta juga nantinya menampilkan hasil kreativitas nya selama pelatihan di Panggung Rakyat Buruh sebagai ujian mental dan kreativitas. Pementasan tersebut menjadi ruang ekspresi atas proses belajar yang telah dijalani selama pelatihan.
Gunawan, atau yang akrab disapa Pakde, salah satu fasilitator dari Institut Teater Rakyat Jogjakarta, menyampaikan bahwa panggung rakyat menjadi sarana eksplorasi peserta.
“Panggung rakyat ini menjadi ruang eksplorasi bagi peserta selama mengikuti pelatihan. Di sinilah mereka mengolah pengalaman nyata menjadi karya pertunjukan yang hidup dan menyentuh,” ujarnya.
Melalui dua lakon “Tiga Bendera” dan “PHK”, para peserta berhasil menghadirkan refleksi kuat tentang pentingnya solidaritas lintas organisasi serta dampak sosial-ekonomi akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal membangun kesadaran kolektif bahwa pekerja bukan sekadar alat produksi, melainkan manusia yang memiliki martabat, hak, dan suara yang harus diperjuangkan.
