Pasar Tradisional Kota Serang di Tengah Gempuran Modernisasi: Analisis Teori Perubahan Sosial, Selo Soemardjan.

Serang, MediaMedia Suarapergerakan.id Pasar tradisional di Kota Serang masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat, meski kini menghadapi tantangan serius akibat pesatnya modernisasi. Pasar-pasar seperti Pasar Rau, Pasar Ciruas, serta pasar-pasar kecil di lingkungan permukiman tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang mencerminkan nilai kebersamaan dan solidaritas masyarakat lokal.

Namun, perkembangan zaman membawa perubahan signifikan terhadap pola konsumsi masyarakat. Munculnya minimarket, supermarket, serta layanan belanja daring secara perlahan menggeser peran pasar tradisional. Kondisi ini terlihat dari semakin sepinya pembeli di sejumlah kios, khususnya toko pakaian dan kebutuhan non-pokok lainnya di pasar tradisional Kota Serang.

Perubahan tersebut sejalan dengan teori perubahan sosial yang dikemukakan oleh sosiolog Indonesia, Selo Soemardjan. Ia mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang memengaruhi sistem sosial, termasuk nilai, sikap, dan pola perilaku masyarakat. Dalam konteks Kota Serang, perubahan sosial tercermin dari pergeseran kebiasaan berbelanja masyarakat yang kini lebih memilih tempat yang dianggap bersih, nyaman, dan praktis.

Modernisasi sebagai bagian dari perubahan sosial mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan sistem yang lebih efisien. Pasar tradisional pun berada dalam posisi yang menuntut penyesuaian. Tanpa pembaruan dalam aspek pengelolaan, kebersihan, dan fasilitas, pasar tradisional berisiko semakin ditinggalkan oleh pembeli.

Meski demikian, Selo Soemardjan menekankan bahwa perubahan sosial tidak selalu berarti hilangnya lembaga lama, melainkan proses penyesuaian terhadap kondisi baru. Pasar tradisional Kota Serang masih memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pasar modern, seperti interaksi langsung antara pedagang dan pembeli, budaya tawar-menawar, kedekatan sosial, serta harga yang relatif lebih terjangkau. Nilai-nilai ini menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas yang menjadi ciri khas masyarakat lokal.

Oleh karena itu, perubahan sosial yang terjadi seharusnya menjadi dorongan bagi pasar tradisional untuk beradaptasi, bukan ditinggalkan. Peran pemerintah dan masyarakat dinilai sangat penting dalam menjaga keberlangsungan pasar tradisional. Pemerintah diharapkan dapat melakukan revitalisasi, meningkatkan pengelolaan, serta menyediakan fasilitas yang lebih layak tanpa menghilangkan nilai sosial yang telah melekat.

Dengan upaya tersebut, pasar tradisional di Kota Serang diharapkan tetap bertahan sebagai lembaga sosial yang hidup dan relevan di tengah arus modernisasi, sejalan dengan pandangan perubahan sosial menurut Selo Soemardjan.

Penulis: Dea Afrindasahri Program Studi: Administrasi Negara Universitas: Pamulang Kampus Serang Dosen pembimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P. Kepala Prodi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *